Monoteisme, antara intoleransi dan pendekatan

Liputan 27, Jakarta - “Allah Israel di dalam Perjanjian Lama terkadang intoleran tapi juga terkadang toleran, berdasarkan kisah di dalam Perjanjian Lama”. Begitulah kalimat kesimpulan dari Prof. Dr. Andreas Kunz-Lubcke dalam Kuliah Umum STT Jakarta, Senin, 7 Maret 2016 yang bertempat di Aula STT Jakarta. Beliau adalah ahli Perjanjian Lama dari Interkulturelle Institute of Theology, Hermansburg, Jerman.

Prof. Kunz-Lubcke memulai pemaparannya dengan sebuah pertanyaan hipotesis “Apakah monoteisme selalu berbuntut intoleransi? Apakah loyalitas kepada satu Tuhan selalu menuntut kekerasan dan penghancuran tuhan yang lain?”. Berdasarkan pertanyaan tersebut beliau menjawab dan memaparkan bahwa monoteisme tidak selalu berujung pada intoleransi. Kuliah yang kali ini bertemakan “Since God has Shown you all this…”: Monotheism between Intolerance and Approximation, membahas tuntas mengenai pendekatan monoteisme yang toleran di dalam Perjanjian Lama.

Dalam Perjanjian Lama beliau memakai model pendekatan tokoh Yusuf dan tokoh Yunus untuk menunjukkan bahwa monoteisme dalam Perjanjian Lama juga bisa menunjukkan toleransinya kepada umat lain yang memiliki tuhan yang lain. Tokoh Yusuf menurut Prof. Kunz-Lubcke adalah tokoh yang melakukan pendekatan yang ideal terhadap komunitas baru yang ditinggalinya yang tidak menyembah Allah. Yusuf menghadirkan Shalom dari Allah kepada Firaun di Mesir (Kejadian 41:16). Ia berani menyatakan kesejahteraan sekaligus bencana kelaparan kepada Firaun dan Firaun mempercayainya bahkan menjadikan Yusuf tangan kanannya. Pertanyaan kritis yang timbul adalah Firaun tidak mengkonversi dirinya menjadi penganut agama Yahudi tetapi mengakui Allah Israel (konfesi) dan Allah menunjukkan toleransinya kepada umat lain dengan menyertai negeri Mesir dalam kelaparan yang dahsyat, sekalipun itu juga dalam rangka kesejahteraan Israel nantinya. Yusuf juga menikah dengan Asnat, putri Potifera, Imam di On. Yusuf berasimilasi dengan baik dengan kebudayaan Mesir dan sukses dalam melakukan Intercultural Marriage.

Tokoh Yunus juga dipakai oleh Prof. Kunz-Lubcke untuk menunjukkan toleransi Allah kepada umat lain. Allah menunjukkan kasihNya kepada Niniwe dengan menyelamatkan mereka karena Niniwe bertobat. Yunus sudah menyadarinya bahwa Allah pasti akan mengampuni umat Niniwe karena Allah maha pengasih dan penyayang bahkan kepada umat lain (doa Yunus dalam Yunus 4). Lebih jauh lagi Prof. Kunz-Lubcke mengatakan bahwa kalau Yunus saja menyadari bahwa Allah sudah siap sejak awal untuk mengampuni Niniwe maka apakah Allah masih membutuhkan konversi? Beliau juga sedikit berspekulasi dengan menyimpulkan bahwa kalaupun Niniwe tidak bertobat maka Allah tidak akan menyampaikan amarahnya karena begitu besarnya kasih Allah kepada seluruh ciptaannya. Dengan pemaparan tersebut beliau menyelesaikan argumennya bahwa Allah di dalam Perjanjian Lama juga Allah yang toleran. (YRH)