Sejarah Singkat STT Jakarta

Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta adalah perguruan tinggi teologi yang tertua di Indonesia. Sekolah ini didirikan pada tanggal 9 Agustus 1934 di Bogor dengan nama Hoogere Theologische School (HTS). Prof. Dr. Th. Mülller-Krüger, pejabat rektor STT Jakarta (rektor pertama adalah Dr. J.R. Sloetemaker de Bruine), pada tahun itu juga mendengungkan apa yang disebutnya theologia in loco, teologi yang diharapkan tidak asing bagi Indonesia dan yang dapat berbuah bagi Gereja-gereja di Indonesia. Pada waktu itu masa pendidikan berlangsung enam tahun dan diharapkan dapat menghasilkan pendeta bangsa Indonesia dalam waktu yang sesingkat mungkin dan hasil sebaik mungkin. Antara tahun 1942-1945, pada masa pendudukan Jepang, dosen-dosen HTS ini ditawan dan perkuliahan pun terhenti. Akibatnya, sekolah terpaksa ditutup. Ketika dibuka kembali pada tahun 1946, sangat terasa kebutuhan untuk mendidik sebanyak mungkin tenaga Indonesia dalam waktu yang singkat, untuk pelayanan gereja-gereja di masa depan. Program pendidikan pun diarahkan kepada wawasan ekumenis.

Ketika Republik Indonesia diproklamasikan, HTS dikembangkan menjadi suatu lembaga pendidikan teologi yang sepenuhnya setaraf dengan pendidikan universitas. Pada tanggal 27 September 1954 nama HTS diubah menjadi Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, dan sejak itu tanggal tersebut diambil menjadi tanggal peringatan berdirinya STT Jakarta.

Pada tahun itu untuk pertama kalinya ijazah SMA dituntut sebagai syarat masuk STT Jakarta. Bahasa Indonesia resmi digunakan menggantikan bahasa Belanda. Sifat ekumenis sekolah ini menjadi semakin jelas. Jabatan rektor ditangani secara bergiliran oleh dosen-dosen Indonesia. Mahasiswa pun datang dari pelbagai penjuru tanah air.

Sekolah ini diasuh oleh Yayasan Lembaga Perguruan Tinggi Teologi di Indonesia (YLPTTI). Maksud dan tujuan YLPTTI dan STT Jakarta adalah mengusahakan dan menyelenggarakan pendidikan tinggi teologi di Indonesia sebagai tempat pembinaan teologi dengan mengelola pendidikan teologi, untuk melayani Gereja dalam melaksanakan tugas panggilannya di tengah-tengah masyarakat.

Pada tahun 1958 STT Jakarta membuka program studi lanjutannya sendiri, dan sejak 1966 juga mengembangkan program studi lanjutan South East Asia Graduate School of Theology (SEAGST), dalam rangka konsorsium sekolah-sekolah teologi di Asia Tenggara yang cukup berhasil mengalihkan arus studi lanjutan ke kawasan Asia sendiri.

Sekitar tahun 2003, STT Jakarta mengembangkan program Pusat Pembelajaran Warga Gereja (PPWG). Program ini dimaksudkan untuk melaksanakan kegiatan Pendidikan dan Latihan bagi gereja khususnya bagi warga gereja yang berada di DKI Jakarta dan sekitarnya.

Pada 2000, program studi S-1 STT Jakarta memperoleh status terakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dengan pering-kat B. Pada saat reakreditasi 2004, peringkat tersebut meningkat menjadi A. Status terakreditasi dengan peringkat A juga disandang oleh program studi Magister Teologi. Bahkan Program Studi Doktor Teologi adalah Program Studi Doktor Teologi yang pertama terakreditasi di Indonesia dan meraih peringkat A. Hingga 2013, STT Jakarta telah meluluskan mahasiswa/i sebanyak 2448 orang, dengan jumlah lulusan Sarjana Theologi (S.Th.) dan Sarjana Sains Teologi (S.Si. (Teol.)) sebanyak 1875 orang, Magister Divinitas (M.Div.) sebanyak 3 orang, Magister Ministri (M.Min.) sebanyak 196 orang, Doktor Ministri sebanyak 9 orang, Magister Teologi (termasuk program SEAGST) sebanyak 304 orang, dan Doktor Teologi (termasuk program SEAGST) sebanyak 61 orang. Para mahasiswa/i program-program studi tersebut diutus oleh gereja ataupun lembaga gerejawi, sehingga sebagian besar kembali melayani gereja atau bekerja pada lem-baga pengutus masing-masing.

Berdasarkan laporan 2012, perpustakaan STT Jakata mengoleksi 64.870 eksemplar dengan 39.571 judul buku, yang membuatnya menjadi salah satu perpustakaan teologi terbesar di Indonesia.
Menjelang usianya yang ke-80 tahun, STT Jakarta terus berupaya keras untuk mengembangkan pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu teologi dan ilmu-ilmu lain yang terkait, agar dapat terus berdiri di barisan depan pendidikan teologi di Indonesia.