Tradisi baru di STT Jakarta: Kala dan Kalam

Liputan27, Jakarta - Sejak Februari 2016, sebuah tradisi baru mulai dilaksanakan di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Tradisi baru yang dimaksud adalah program kuliah umum yang diberi nama "Kala dan Kalam". Kuliah umum "Kala dan Kalam" dilaksanakan tiap hari Senin di minggu keempat tiap bulannya. "Kuliah umum hari ini adalah yang perdana, dan semoga ini bisa menjadi tradisi baru di STT Jakarta," ujar Pdt. Yusak Soleiman Ketua STT Jakarta saat membuka kuliah umum "Kala dan Kalam" Senin lalu (22/02).

Pada kesempatan perdana, dua orang dosen STT Jakarta ditetapkan sebagai pembicara untuk dua sesi yang berbeda. Mereka adalah Pdt. Agustinus Setiawidi, Ph.D. dan Pdt. Robert P. Borrong, Ph.D. Pdt. Agustinus dalam sesi yang pertama membawakan topik "Israel Riwayatmu Dulu, Kini, dan Nanti: Hubungan Gereja dan Negara Israel". Pada sesi kedua, Pdt. Borrong membawakan topik tentang "Hukuman Kebiri bagi Pemerkosa Anak, tinjauan Etika Kristen."

Antusiasme peserta saat itu cukup besar, terlihat dari banyaknya peserta yang hadir dari awal hingga akhir acara. Para peserta tidak hanya mahasiswa-mahasiswi STT Jakarta saja, tetapi juga para dosen STT Jakarta, alumni, agamawan, serta jemaat dan aktivis dari beragam gereja. Pada sesi tanya jawab, peserta cukup aktif bertanya dan memberi tanggapan. Dosen-dosen STT Jakarta juga tidak kalah antusiasnya. Beberapa dosen terlihat ikut menghidupkan diskusi dengan menyampaikan pendapat, sanggahan, juga pertanyaan dalam dua sesi kuliah umum saat itu.

Kuliah umum "Kala dan Kalam" awalnya direncanakan menjadi kuliah umum berbayar, seperti yang ditunjukkan pada publikasi pertama, beberapa minggu sebelum acara dilangsungkan. Akan tetapi, setelah melalui beberapa pertimbangan, peserta kuliah umum "Kala dan Kalam" dibebaskan dari biaya apapun. Peserta juga dijamu makan malam yang sederhana dan memperoleh sertifikat di akhir acara.

Ini adalah yang perdana, dan semoga bisa jadi tradisi baru di STT Jakarta

Nama "Kala dan Kalam" dicetuskan oleh Pdt. Joas Adiprasetya, Pembantu Ketua IV Relasi Publik STT Jakarta. Kata "Kala" memiliki arti "waktu" sedangkan "Kalam" menunjuk pada logos atau Firman Tuhan. Kuliah umum ini diharapkan dapat dilangsungkan secara rutin dan membicarakan topik-topik aktual dalam ranah teologi.

Pada kuliah umum "Kala dan Kalam" berikutnya yang akan dilangsungkan hari Senin, 28 Maret 2016, telah disiapkan Pdt. Yonky Karman, Ph.D. dan Pdt. Dr. des. Asigor Sitanggang sebagai pembicara untuk dua sesi yang berbeda. Calon peserta yang hendak mengikuti kuliah umum Maret nanti diharapkan dapat mendaftarkan dirinya terlebih dahulu sebelum mengikuti kuliah umum tersebut. (XND)